Monday, February 12, 2024

Eps. 11 KISAH IBU MARWATI

 


Di sebuah sekolah bernama SMP Harapan Jaya, Kepala Sekolah bernama Ibu Marwati memiliki keinginan kuat untuk menjadikan administrasi kelas sesuai dengan pemahamannya yang sangat detail. Ibu Marwati percaya bahwa administrasi yang sempurna akan menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur dan efisien. Namun, upayanya tersebut membuat semua guru merasa tertekan dan beban secara mental.

Setiap kali supervisi dilakukan, Ibu Marwati selalu mengevaluasi setiap catatan administrasi kelas hingga ke detail terkecil. Para guru merasa tekanan yang luar biasa, dan ketidakpuasan mulai merasuk di antara mereka. Konsentrasi mengajar menjadi terganggu, dan beban mental yang terus-menerus membuat beberapa guru akhirnya jatuh sakit.

Meski pemerintah telah menyarankan agar guru lebih fokus pada kualitas pembelajaran daripada terlalu mengejar administrasi yang sempurna, Ibu Marwati tetap pada pendiriannya. Baginya, administrasi yang sempurna adalah segalanya. Pemahamannya membuatnya tidak menyadari bahwa tindakannya telah merugikan kesejahteraan mental dan fisik para guru di sekolahnya.

Suatu siang, suasana sekolah tampak sangat berbeda. Semua guru tampak lelah dan kewalahan. Beberapa di antaranya sampai tertidur di ruang guru. Ibu Marwati, sementara itu, berpikir bahwa guru-gurunya malas melihat kondisi itu. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya kondisi tersebut adalah akibat dari tekanan yang ia berikan.

Namun, kejadian mengejutkan terjadi. Saat Ibu Marwati melintasi kelas-gelas yang sepi, ia melihat sebuah catatan di meja guru. Catatan itu ditulis oleh salah seorang guru yang mengungkapkan perasaannya yang tertekan dan kelelahan. Guru tersebut menyampaikan betapa sulitnya menjalani rutinitas harian dengan tekanan yang begitu besar.

Membaca catatan tersebut membuat Ibu Marwati terdiam. Ia tersadar bahwa tindakannya telah membuat para guru di sekolahnya merasa terbebani. Ibu Marwati merenung sejenak dan menyadari bahwa pemerintah tidak tanpa alasan memberikan saran untuk menyesuaikan administrasi dengan potensi masing-masing guru.

Kejadian ini menjadi pukulan keras bagi Ibu Marwati. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk mengadakan rapat darurat bersama semua guru. Ia meminta maaf secara terbuka atas tekanan yang telah diberikannya dan menyesuaikan tuntutan administrasi dengan kualitas pembelajaran dan potensi masing-masing guru.

Tidak hanya itu, Ibu Marwati juga merencanakan pelatihan untuk membantu guru-guru mengelola administrasi dengan lebih efisien. Ia berkomitmen untuk mendengarkan dan berkolaborasi dengan stafnya agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih seimbang.

Perubahan positif terasa di seluruh sekolah. Guru-guru mulai merasa dihargai dan diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi potensi kreatif mereka dalam mengajar. Kesejahteraan mental dan fisik guru pun membaik, dan suasana sekolah menjadi lebih ceria dan produktif.

Dari kejadian ini, Ibu Marwati belajar bahwa pemahamannya yang kaku terhadap administrasi tidak selalu membawa kebaikan. Ia menyadari bahwa sebuah kepemimpinan yang baik harus bersifat inklusif, memahami kebutuhan dan potensi masing-masing individu. Dengan tekad untuk memperbaiki kesalahannya, Ibu Marwati berhasil mengubah paradigma kepemimpinannya menjadi lebih peduli dan mendukung bagi guru-guru di sekolahnya.

 

No comments:

Post a Comment