Di sebuah sekolah bernama SMP Harapan Jaya, Kepala Sekolah bernama Ibu Marwati memiliki keinginan kuat untuk menjadikan administrasi kelas sesuai dengan pemahamannya yang sangat detail. Ibu Marwati percaya bahwa administrasi yang sempurna akan menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur dan efisien. Namun, upayanya tersebut membuat semua guru merasa tertekan dan beban secara mental.
Setiap kali supervisi dilakukan, Ibu Marwati selalu mengevaluasi setiap
catatan administrasi kelas hingga ke detail terkecil. Para guru
merasa tekanan yang luar biasa, dan ketidakpuasan mulai merasuk di antara
mereka. Konsentrasi mengajar menjadi terganggu, dan beban mental yang
terus-menerus membuat beberapa guru akhirnya jatuh sakit.
Meski
pemerintah telah menyarankan agar guru lebih fokus pada kualitas pembelajaran
daripada terlalu mengejar administrasi yang sempurna, Ibu Marwati tetap pada
pendiriannya. Baginya, administrasi yang sempurna adalah segalanya.
Pemahamannya membuatnya tidak menyadari bahwa tindakannya telah merugikan
kesejahteraan mental dan fisik para guru di sekolahnya.
Suatu siang,
suasana sekolah tampak sangat berbeda. Semua guru tampak lelah dan kewalahan.
Beberapa di antaranya sampai tertidur di ruang guru. Ibu Marwati, sementara
itu, berpikir bahwa guru-gurunya malas melihat kondisi itu. Tanpa menyadari
bahwa sebenarnya kondisi tersebut adalah akibat dari tekanan yang ia berikan.
Namun,
kejadian mengejutkan terjadi. Saat Ibu Marwati melintasi kelas-gelas yang sepi,
ia melihat sebuah catatan di meja guru. Catatan itu ditulis oleh salah seorang
guru yang mengungkapkan perasaannya yang tertekan dan kelelahan. Guru tersebut
menyampaikan betapa sulitnya menjalani rutinitas harian dengan tekanan yang
begitu besar.
Membaca catatan tersebut membuat Ibu Marwati terdiam. Ia tersadar bahwa
tindakannya telah membuat para guru di sekolahnya merasa terbebani. Ibu Marwati
merenung sejenak dan menyadari bahwa pemerintah tidak tanpa alasan memberikan
saran untuk menyesuaikan administrasi dengan potensi masing-masing guru.
Kejadian ini
menjadi pukulan keras bagi Ibu Marwati. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk
mengadakan rapat darurat bersama semua guru. Ia meminta maaf secara terbuka
atas tekanan yang telah diberikannya dan menyesuaikan tuntutan administrasi
dengan kualitas pembelajaran dan potensi masing-masing guru.
Tidak hanya
itu, Ibu Marwati juga merencanakan pelatihan untuk membantu guru-guru mengelola
administrasi dengan lebih efisien. Ia berkomitmen untuk mendengarkan dan
berkolaborasi dengan stafnya agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang
lebih seimbang.
Perubahan
positif terasa di seluruh sekolah. Guru-guru mulai merasa dihargai dan
diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi potensi kreatif mereka dalam mengajar.
Kesejahteraan mental dan fisik guru pun membaik, dan suasana sekolah menjadi
lebih ceria dan produktif.
Dari kejadian ini, Ibu Marwati belajar bahwa pemahamannya
yang kaku terhadap administrasi tidak selalu membawa kebaikan. Ia menyadari
bahwa sebuah kepemimpinan yang baik harus bersifat inklusif, memahami kebutuhan
dan potensi masing-masing individu. Dengan tekad untuk memperbaiki
kesalahannya, Ibu Marwati berhasil mengubah paradigma kepemimpinannya menjadi
lebih peduli dan mendukung bagi guru-guru di sekolahnya.

No comments:
Post a Comment